Malam ini penulis sangat senang sekali karena belajar materi kali ini ditemani dengan ceramah Gus Baha yang sungguh otoritatif, semoga kelak bisa seperti beliau. Materi yang akan dipelajari adalah Editing Naskah oleh Teh Shabira Ika. Editing naskah ini bagi penulis adalah hal yang sangat penting untuk sebelum menyebarkan tulisan. Teh Shabira Ika adalah seorang editor di Penerbit Gema Insani.
Tahapan menulis ada empat yakni ;
a. Prewriting.
b. Drafting.
c. Revising.
d. Editing.
Materi 1 dan 2 di kelas KMO ini masuk ke tahap prewriting. Materi ketiga masuk ke tahap drafting. Materi malam ini masuk ke revising dan editing. Pemateri mengawali dengan pernyataan bahwa penulis adalah pemilik karya yang melekat dengannya. Jika buku atau karya tersebut bermasalah yang dicari adalah penulis, sebagaimana juga jika buku tersebut best seller maka penulislah yang dicari.
Bahkan ada yang mengibaratkan bahwa penulis itu orang tua kandung dari karyanya. Oleh karena itu seorang penulis harus mengolah tulisannya dengan sepenuh hati. Self editing itu harus dilakukan oleh penulis. Jadi, sebelum mengirimkan tulisan ke penerbit atau mem- publish karya, penulis hendaknya telah benar-benar yakin dengan naskahnya dan melakukan usaha terbaik untuk membuat naskahnya memesona.
Menurut pemateri, setiap karya yang kita hasilkan, baik yang melalui penerbit mayor maupun kita terbitkan mandiri adalah portofolio kita. Portofolio yang akan melekat pada nilai kualitas kita.Karya-karya kita yang kita terbitkan di platform digital (misalnya), jika bagus bisa jadi juga akan dilirik oleh penerbit untuk menerbitkan atau PH film untuk difilmkan.Termasuk juga karya-karya sebagai konten kreator.Sebagai pembuat konten, media berkarya penulis saat ini lebih luas ... output-nya tidak 'hanya' buku, tetapi berbagai macam media.
Dengan banyaknya media berkarya, kualitas tulisan/karya kita tetap harus kita jaga. Jadi untuk apa sebenarnya kegunaan swasunting atau self editing ini? Tujuan swasunting adalah untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan dalam naskah dan memastikan bahwa naskah yang dihasilkan benar-benar maksimal dan dapat dipertanggungjawabkan. ingat, penulisan yang benar adalah " dipertanggungjawabkan " bukan " dipertanggung jawabkan ". Dipertanggungjawabkan kepada siapa? pembaca dan Tuhan.
“Semua penulis akan meninggal, hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib)"
Quote ini mengingatkan dan mengajak kita hanya untuk menulis yang baik-baik saja. yang dapat kita pertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Tuhan. Jika kita ingin melakukan swasunting (self editing) pada tulisan kita apa yang harus diperhatikan?
Dalam proses swasunting, ruang lingkup/fokus penulis harus tertuju pada dua poin berikut.
1. Editing isi atau konten
Meliputi keaslian naskah (tidak menjiplak/copypaste), kevalidan sumber, kebenaran isi naskah, kelengkapan dan kesempurnaan naskah/naskah utuh, tidak ada bagian naskah yang terlewat).
jika fiksi, unsur-unsur intrinsiknya terpenuhi dengan baik. Karakter, setting/latar, dan alur sesuai, tidak ada plot hole, dsb. Plot Hole adalah kesenjangan atau ketidakkonsistenan dalam alur cerita atau logika peristiwa yang bertentangan dengan alur logika cerita. Misalnya, ada tokoh yang awalnya karakternya lemah lembut tiba-tiba menjadi sangat kasar tanpa ada sebab, seseorang tiba-tiba bisa terbang atau memiliki kekuatan super tanpa ada sebab akibat. perhatikan film-film yang mengangkat orang memiliki kekuatan super, pasti ada latar belakang di baliknya.
Bagaimana orang itu mendapat kekuatan atau mengapa mendapat kekuatan. Penjelasan atau latar belakang itu adalah jembatan sehingga cerita menjadi 'logis' dan dapat diterima. Dalam membuat cerita, semua peristiwa atau perubahan karakter harus ada sebab yang menjelaskannya.ika saat mengedit ditemukan 'lubang' yang tidak menjelaskan/menjawab sebab akibat suatu peristiwa, harus diperbaiki.terkait dengan konten ini karena menulis adalah membuat sejarah dan menebar nilai/pemikiran, jangan sampai ketika kita menulis, kita meninggalkan sejarah yang buruk dan menebar nilai/pemikiran yang buruk pula.Alangkah menyedihkan jika kita sudah meninggal, ada tulisan kita tentang keburukan yang masih diikuti orang.
2.Editing bahasa
Melingkupi struktur bahasa dan tanda baca yang sesuai dengan EYD V. Juga kesesuaian arti kata dan cara penulisan/ejaan yang sesuai KBBI.
Apakah dua hal tersebut benar-benar penting untuk diedit?
(edit konten dan bahasa)
Jika kita sudah tahu ilmu tata bahasa, ini akan memudahkan kita menyampaikan gagasan kita kepada pembaca sehingga gagasan kita dapat dimengerti oleh pembaca. Hal yang penting dari tulisan kita adalah gagasan, ide, ajakan kita bisa dimengerti dan dinikmati oleh pembaca. Gagasan yang bagus jika disampaikan dengan kurang bagus, jadi berkurang kebagusannya. Bahkan, bisa tidak ditangkap isinya karena cara penyampaian yang kurang pas.
Di era digital modern saat ini, narasi konten (bahasa) yang digunakan sangat penting dan berpengaruh terhadap respons pembaca atau penikmat konten.Kejahatan bisa tidak dikenali selama berpuluh-puluh tahun karena peran narasi.Kebenaran bisa juga dianggap salah karena peran narasi.Inilah kekuatan para pembuat konten narasi.
Di dunia bisnis, kemampuan copy writing sangat dicari. Kemudian, kalau diterbitkan sendiri, Kak? Apakah tetap harus memperhatikan hal-hal di atas?
Akan mengurangi nilai portofolio kita juga menurut pemateri jika kita mengabaikan hal-hal di atas.
Apa bekal yang dibutuhkan untuk bisa maksimal melakukan swasunting (self editing) naskah kita?
1.Penguasaan materi naskah, buku-buku referensi, dan data terkait tema.
Bisa jadi, untuk satu buku yang akan kita tulis, kita harus membaca sampai 10 buku referensi. Bahkan, lebih. Bisa jadi harus mendatangi banyak tempat, bertanya ke banyak orang, melakukan survei.Inilah rahasia mengapa membaca dan menulis selalu disandingkan. Jika kita ingin menulis, kita harus merelakan diri rajin membaca. Semakin banyak/luas bacaan, semakin dalam kualitas tulisan kita. Semakin banyak bahan tulisan kita, semakin kaya informasi yang bisa kita bagikan.
Lalu ada pertanyaan, "Kalau menulis fiksi, apa butuh referensi juga, Kak? Bukannya cukup mengandalkan imajinasi kita saja? Justru kalau kita tidak banyak membaca referensi karya kita akan lebih asli, tidak terpengaruh karya orang lain." Percayalah. Karya-karya fiksi yang berkualitas, yang "langgeng" adalah karya-karya fiksi yang penulisnya melakukan riset sebelum menulis. Penulis mendalami tema yang akan diangkat. Jika penulis ingin mengangkat tema tentang kesehatan, harus riset, membaca terlebih dahulu pengetahuan seputar kesehatan.Supaya informasi-informasi yang disampaikan dalam ceritanya benar. Begitu juga jika ingin mengangkat tema dunia SMA, kampus, kehidupan nelayan, sosialita, dan sebagainya
Dee Lestari pernah menyampaikan, sebelum menulis Filosofi Kopi, dia membaca berbagai literatur tentang kopi. Apa pun jenis tulisan kita baik fiksi maupun nonfiksi jangan enggan untuk menguasai tema yang akan kita angkat dan melakukan riset.
Apakah riset itu harus sesuatu yang berat? Tidak.
Riset itu sesuai kebutuhan tema yang kita angkat di dalam tulisan kita.
Mencari tahu perbedaan pilek dan flu termasuk riset. Apalagi jika sakit itu memengaruhi alur cerita.
2. Penguasaan dasar-dasar EYD V
https://ejaan.kemdikbud.go.id/ silakan sering-sering dikunjungi... bisa juga mencari versi pdfnya dan diunduh. Tentang aturan penulisan huruf kapital, cara menulis percakapan, dan lainnya lengkap ada di sana. Tentang tanda baca, penulisan singkatan, dan sebagainya juga ada.
3. Bekal ketiga adalah KBBI
https://kbbi.kemdikbud.go.id/ Kadang, di KBBI ini kita bisa menemukan kosa kata baru juga sehingga memperkaya tabungan kosa kata kita.
Bagaimana langkah-langkah melakukan self editing?
LANGKAH-LANGKAH MELAKUKAN SWASUNTING
8. Selesaikan terlebih dahulu tulisan, baru lakukan swasunting.
Hal ini perlu komitmen dan kemampuan menahan diri yang besar.
Jika dari awal sudah sibuk melakukan swasunting, sementara naskah belum selesai, bisa jadi naskah tidak akan selesai-selesai.
PERTANYAAN
3. Reina / Kelompok 8 / Yullia Fivtriana
Pertanyaan:
Terkadang kita baca pesan WA aja suka merasa si pengirim pesan kayaknya marah nih... padahal ternyata tidak...
Bagaimana caranya agar apa yang kita tulis itu dipersepsikan sama oleh penulis dan pembacanya?
Karena ketika self-editing, pasti ada juga detil yang terlewatkan...
JAWAB
Bisa dibantu dengan narasi yang membangun suasana dan konteks yang kita inginkan, Kak.
Di sinilah salah satu fungsi dari paragraf narasi. Membangun suasana dan menguatkan konteks sehingga penulis dan pembaca berada pada konteks dan frekuensi yang sama.
4.Nama: Rostia
Kelompok/PJ: 5/Santi
Pertanyaan: Jika menulis novel harus menggunakan kata yang sesuai dengan KBBI dan EYD, lalu bagaimana dengan bahasa daerah yang bisa jadi tidak ada di dalam kamus. Seperti teh atau mah yang digunakan orang sunda. Apakah jangan dimasukkan, atau ada cara tertentu?
JAWAB
Bisa dipertahankan/dimasukkan untuk menguatkan setting kedaerahan atau karakter. Ditulis dengan dimiringkan (italic).
5. Nama : Karisma
Kelompok/PJ : 10/ Putri Rellisya
Pertanyaan :
Izin bertanya, Ibu
1. Point penting apa yang biasanya menjadi point penilaian bagi para editor dalam menyeleksi naskah agar naskah novel yang disubmite kurang mendapatkan koreksi dan cepat di terbitkan serta cara untuk mengantisipasinya.
2. Apakah ada saran platform yang bisa digunakan untuk mengecek tata bahasa termasuk kesinambungan kalimat dan paragraf agar tidak bekerja 2x saat mengetik naskah novel.
Terimakasih sebelumnya🙏
JAWAB
1. poin penilaian
- isi cerita (kira-kira disukai pembaca atau tidak). Termasuk sesuai dengan sasaran pembaca (misal usianya, domisilinya, kehidupan kesehariannya, dan seterusnya).
- pesan yang dibawa dalam novel. (misal, apakah mewakili banyak kehidupan pembaca)
- cara penceritaan atau gaya bahasa
Supaya peluang naskah kita untuk diterima penerbit besar, bisa juga dengan mempelajari novel-novel terbitan penerbit tersebut sebelum-sebelumnya. Mengenali selera penerbit tersebut .
2. Terkait platform, saya belum bisa memberikan rekomendasi. Barangkali dari Kakak-Kakak PJ ada rekomendasi?
6. Nama: Steve Mendel
Kelompok/ PJ: 3/ Dahlia
Pertanyaan: Bagaimana caranya kita sebagai pemula membuat draft sampai ke final editing yang "sempurna" sementara banyak hal yang mungkin kita belum bisa kuasai dalam membuat novel? Apalagi jika sudah melakukan banyak riset malah makin pusing harus implementasi referensinya ke konten tulisan biar "lebih bagus"? Harus terjebak dalam lingkaran redraft & re-edit sampe tidak jadi novelnya
JAWABAN
Tahap pertama. Bisa dibantu dengan membuat mapping , Kak. Untuk buku nonfiksi bisa dengan membuat daftar isi , bab satu, bab dua, dan seterusnya…. Di bab satu bisa dikembangkan menjadi beberapa subbab, begitu seterusnya.
Daftar isi ini seperti kerangka tulisan, yang membantu kita mengorganisasikan pikiran, bahan, dan ide kita.
Tahap kedua. Tulis sampai selesai, baru diedit . Tahan diri untuk tidak mengedit sebelum tulisan selesai.
7. Nama : indra narta
Kelompok/pj : 4/Afiatunhikmah
Pertanyaan : jika buku nonfiksi, bisa dilihat sistematikanya, runtutan pembahasan antar bab dan antar subbab. Lalu, bisa berikan contoh agar lebih mudah?
JAWABAN
Kakak bisa membuka salah satu buku yang ada, ya, dan dilihat di daftar isinya …. Di sana akan terlihat runtutan pembahasan dalam buku tersebut.
Misal bab pertama masih pengenalan masalah dan dibagi ke dalam beberapa subbab
Bab 2 penjelasan lanjutan yang lebih mendalam, begitu seterusnya sampai bab terakhir sehingga satu buku tersebut menjadi satu kesatuan utuh tema.
8. Nama : Citra
Kelompok/PJ : 2/ Nanda
Izin bertanya, kak
Pertanyaan :
Izin bertanya terkait plot hole. Bagaimana jika memang plot hole tersebut sengaja diciptakan? Misalnya, ketika cerita yang dibuat memang ditergetkan untuk memiliki open ending atau plot hole tersebut sengaja dibuat sebagai pondasi utama untuk cerita seri berikutnya. Khususnya jika dilihat dari sisi seorang editor, menurut Teh Shabira, bagaimana cara terbaik untuk mengemas unsur kejutan berupa plot hole ini agar menjadi poin plus dan bukannya menjadi alasan sebuah naskah tereliminasi?
JAWABAN
Sependek yang saya pahami plot hole dengan alur cerita yang sengaja disimpan untuk kejutan akan berbeda, Kak.
Plot hole memunculkan kejanggalan dalam cerita, sementara cerita kejutan akan menimbulkan rasa penasaran.
Khususnya jika dilihat dari sisi seorang editor, menurut Teh Shabira, bagaimana cara terbaik untuk mengemas unsur kejutan berupa plot hole ini agar menjadi poin plus dan bukannya menjadi alasan sebuah naskah tereliminasi?
Bisa dijelaskan dalam penjelasan tambahan sinopsis ceritanya, Kak sehingga editor mengerti maksud dari penulis dan bisa menjadi bahan diskusi jika naskahnya diterima.
9. Kelompok/PJ: siti robiah adawiyah
Pertanyaan: bagaimana cara memastikan alur cerita tetap konsisten saat proses editing?
JAWAB
Berpegang pada premis awal saat membuat cerita dan bisa berpatokan pada mapping yang sudah dibuat, Kak.
Jika ada godaan untuk melebarkan cerita, tahan, dan simpan ide tersebut untuk tulisan yang baru.
10. Nama: Nasya Wahyu Nur Nathania
Kelompok: 6
PJ: Santhi
Pertanyaan: Bagaimana cara membedakan antara kesalahan ejaan dan kesalahan tata bahasa? Lalu bagaimana cara memastikan bahwa naskah sesuai dengat target pembaca?
JAWABAN
e.ja.an
nomina
kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dsb) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca.
Tata bahasa adalah kaidah atau aturan dalam sebuah bahasa yang mengatur tata cara penyusunan kata dan kalimat untuk menciptakan makna yang jelas dan efektif.
Ejaan fokus utamanya pada kata , tata bahasa pada penyusunan kata (kalimat).
Naskah sesuai dengan target pembaca misalnya, target pembaca kita kaum urban cerita kita tentang kehidupan kaum urban.
Sasaran pembaca kita anak-anak usia 7 -12 tahun, kita tidak akan membahas tentang bagaimana cara mendapatkan penghasilan 100 juta pertama Kita cari tema-tema yang sesuai dengan usia tersebut dan disajikan dengan pilihan kata, susunan kalimat yang dimengerti oleh mereka.

Komentar
Posting Komentar